Liverpool Ajukan Tawaran untuk Balotelli

The Reds mengajukan tawaran 342,73 miliar .

Klub

Mario Balotelli (REUTERS/Giorgio Perottino)

VIVAbola - Liverpool tengah berupaya memperkuat lini depan mereka sepeninggal Luis Suarez ke Barcelona. The Reds dilaporkan telah mengajukan tawaran resmi untuk striker AC Milan, Mario Balotelli.

Rumor akan bergabungnya Balotelli ke Liverpool sudah beberapa kali berhembus. Manajer The Reds, Brendan Rodgers sempat membantah kabar ini.

Meskipun demikian, kabar terbaru datang dari Sport Mediaset. The Reds dilaporkan telah mengajukan tawaran sebesar €22 juta atau setara Rp342,73 miliar untuk Balotelli.

Rossoneri disebut-sebut enggan melepas aset berharganya tersebut. Namun, tim besutan Pippo Inzaghi rela melepas Super Mario jika ada tawaran di atas €25 juta.

Jika jadi hengkang ke Liverpool, ini menjadi comeback Balotelli ke Premier League. Pemain internasional Italia ini sempat membela Manchester City pada 2010 hingga 2013. Balotelli mencetak 30 gol dari 80 penampilan bersama The Citizens.

Beberapa striker sempat dikaitkan dengan kepindahan ke Anfield pasca hengkangnya Luis Suarez. Nama lain yang menjadi sasaran adalah striker AS Monaco, Radamel Falcao. Namun, Liverpool harus bersaing dengan Juventus untuk mendapatkan Falcao.

Lihat berita menarik lainnya dengan mengklik tautan ini.

© VIVAbola

BERITA TERKAIT

left


  • Messi dari Inggris Masuk Daftar Beli Liverpool

  • Isu Rihanna Beli Liverpool Jadi Guyonan di Kereta

  • Sturridge Ingin Liverpool Bayar Kegagalan Musim Lalu


  • 10 Klub Terboros di Bursa Transfer Musim Ini

  • Honda Cetak Gol Spektakuler tapi Juga Sepak Pojok Terburuk

  • Liverpool Mampu Lebih Cepat Lupakan Suarez

Ini Manusia Barbie Termuda

Lolita Richi, Manusia Barbie asal Ukraina (Facebook/Lolita Richi)

Lolita Richi, Manusia Barbie asal Ukraina (Facebook/Lolita Richi)

VIVAlife - Manusia Barbie kembali muncul di Ukraina. Namanya Lolita Richi. Gadis muda yang masih berusia 16 tahun ini, mengklaim jika tubuh seksinya yang menyerupai boneka adalah murni dan bukan hasil operasi plastik, seperti Barbie hidup lainnya.

Meski tanpa menjalani bedah plastik, Lolita asal Kiev, Ukraina, ini memiliki lingkar pinggang yang kecil, 20 inci atau 50 centimeter, dengan ukuran bra 32F. Untuk membentuk mata yang indah, Lolita cukup menggunakan lensa kontak, eyeliner serta maskara. Dengan begitu, ia memiliki tatapan serupa dengan sebuah boneka.

Banyak orang menganggap, jika tubuh indah Lolita merupakan hasil operasi plastik, atau pun Photoshop. Namun, ia tetap membantah hal tersebut. Lolita bersikukuh jika tubuhnya adalah karunia Tuhan.

“Saya rasa, memiliki tubuh yang baik dan menggoda. Aku, bahkan belum pernah mendengar nama Valeria Lukyanov,” ujarnya.

Ia juga mengatakan banyak orang yang iri akan kecantikannya. Dia pun kerap menjadi pusat perhatian para pria di sekolahnya. Tetapi, Lolita mengaku sama sekali tertarik dengan murid lain di sekolahnya, karena tidak ada yang sesuai dengan seleranya.

Gaya Barbie ini, menurut Lolita, baru dilakukannya tahun lalu. Sebelumnya, ia adalah anak tomboy yang tidak suka bermain boneka.

“Saya mulai berpakaian seperti ini, karena saya ingin terlihat sempurna. Aku ingin menjadi inspirasi bagi diri sendiri dan orang lain,” akunya.

Ada pun wanita lain yang juga dikenal sebagai Manusia Barbie adalah Alina Kovalevskaya dan Valeria Lukyanova. Keduanya berasal dari Ukraina.

Sumber: Daily Mail (asp)

Depresi Serang Selebriti

Heath Ledger yang overdosis obat tidur, juga bergelut dengan depresi. (gulfnews.com)

Heath Ledger yang overdosis obat tidur, juga bergelut dengan depresi. (gulfnews.com)

VIVAlife – Senyum khas dan akting kocak Robin Williams dalam film legendaris Mrs Doubtfire sama sekali tak menyiratkan kesedihan. Mata jenakanya terkenang sepanjang masa.

Tak sedikit yang tahu keakraban Williams dengan alkohol dan obat-obatan. Namun, sekali lagi, itu tidak membuatnya berkubang dalam suasana muram. Tahun demi tahun, film Williams terus bermunculan.

Saat 11 Agustus lalu ia ditemukan meninggal di California, seluruh pemerhati dunia hiburan terkejut. Apalagi ia diduga meninggal bunuh diri. Tubuhnya tergantung dan ada pisau di dekatnya.

Penyebab bunuh dirinya langsung menyempit pada satu kata: depresi. Dugaan itu didasari ungkapan duka cita dari perwakilan Williams. “Dia berjuang melawan depresi yang berat akhir-akhir ini,” katanya.

Fakta itu kemudian menguak riwayat lama Williams sebagai pecandu obat dan alkohol. Padahal, ia sudah berobat. Dalam wawancara tahun 2010 ia juga mengungkapkan hidupnya sudah lebih bahagia.

Beberapa hari setelah kematiannya, muncul fakta baru. Istri Williams, Susan Schneider mengungkap, saat meninggal suaminya sebenarnya juga tengah berjuang melawan tahap awal penyakit parkinson.

Menurut Dr Manny Alvarez, editor kesehatan untuk Fox News, parkinson bisa menjadi beban berat bagi psikologi penderitanya. Akan ada perubahan kimia dalam otak, yang bisa menyebabkan depresi.

Jika mengalami parkinson dan depresi, kondisinya akan jauh lebih mengkhawatirkan. Konsentrasi menurun drastis, sering merasa cemas, apalagi saat sendirian. Itu bisa mengarah ke bunuh diri.

Ironi depresi

Depresi, yang merupakan salah satu masalah kejiwaan, langsung jadi topik hangat. Namun studi Royal College of Psychiatrists menemukan, hanya tiga dari 10 penderita depresi yang dapat perawatan tepat.

Penderita depresi ternyata kurang diperhatikan. Menurut Profesor Simon Wessely, presiden Royal College of Psychiatrists, itu disebabkan banyaknya penderita yang tidak memahami gejala depresi.

Di sisi lain, biaya pengobatan penyakit mental umumnya jauh lebih mahal dibandingkan penyakit fisik. Sehingga mereka yang mengenali gejala, namun tidak mampu secara finansial, memilih membiarkannya.

Perusahaan pun cenderung mengabaikan. Yang diperhatikan hanya kondisi fisik, bukan psikis.

Depresi menjadi makin populer karena kasusnya banyak pada selebriti. Williams bukan satu-satunya. Ada pula Heath Ledger, Demi Lovato, Catherine Zeta-Jones, Winona Ryder, dan Gwyneth Paltrow.

Sama seperti Williams, Ledger juga meninggal dunia. Ia over dosis obat tidur dan pereda nyeri.

Namun dijelaskan dr Albert Maramis, SpKJ saat diwawancara VIVAlife, Selasa, 19 Agustus 2014, bukan hanya selebriti yang rentan mengalami gangguan mental seperti depresi.

“Sebenarnya jenis gangguan jiwa sangat banyak, ratusan jumlahnya. Yang paling sering didapati adalah depresi, cemas, dan gangguan psikotik, di samping ketergantungan zat dan NAPZA,” kata Albert.

Ia menuturkan, penyebab gangguan jiwa umumnya interaksi tiga faktor utama, yakni biologis, psikologis, dan lingkungan. Faktor biologis yang dimaksud seperti genetik atau gangguan kondisi otak.

Sedang faktor psikologis, seperti kepribadian dan kemampuan beradaptasi. Faktor lainnya, lingkungan, ditandai dengan situasi yang menekan, bisa disebabkan pekerjaan atau lingkungan sosial lainnya.

“Faktor dalam diri seseorang juga bisa, seperti harga diri rendah, ketidakmatangan pikiran dan emosi, kesulitan berkomunikasi, atau penyakit fisik dan penggunaan zat terlarang,” Albert memaparkan.

Ia melanjutkan, seseorang yang merasa kesepian, punya konflik keluarga, cenderung ditelantarkan lingkungan terdekat, mengalami kekerasan, penganiayaan, dan kemiskinan juga berisiko depresi.

Akses yang buruk ke layanan kesehatan juga memengaruhi. Begitu pula perang dan bencana. Bahkan hal-hal sepele seperti diskriminasi sosial atau gender pun bisa membuat seseorang tertekan dan depresi.

Tak pandang bulu

Albert menegaskan, depresi tak pandang bulu, bisa menyerang siapa saja. Tidak ada profesi tertentu yang lebih membuat seseorang tertekan, seperti pekerja seni dengan banyak tuntutan.

Penderitanya juga tidak selalu tinggal di kota besar. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 mematahkan anggapan bahwa penderita depresi selalu berhubungan dengan kehidupan perkotaan.

Albert menyebut, angka gangguan mental dan emosional tahun 2007 justru lebih banyak di pedesaan ketimbang perkotaan. Namun, Albert tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang menjadi penyebabnya.

Hanya saja, ada beberapa gejala awal yang bisa menjadi tanda.

Dr Charles Raison, profesor jurusan psikiatri di University of Arizona College of Medicine menyebutkan perubahan mood yang tiba-tiba dan berlangsung lama bisa menjadi tanda yang paling mudah dikenali.

“Anda harus mulai khawatir bila keluarga atau teman terus-menerus merasa sedih dalam waktu lama atau jika Anda merasa mereka tidak lagi menjadi diri mereka sendiri,” ujanya, dikutip dari CNN.

Selain itu, tanda lain yang juga mudah dikenali adalah keseringan memberikan pandangan negatif akan hidup dan mudah putus asa. Tidak lagi ingin bersosialisasi dan memilih menyendiri, juga jadi tanda.

Masalah tidur pun salah satu gejala. Sebab, penderita depresi bisa terus-menerus tidur atau justru tidak tidur sama sekali. Raison menjelaskan, mengenali tanda depresi pada anak-anak jauh lebih rumit.

Raison menyebutkan, pada anak-anak gejalanya lebih luas dan meliputi mood yang berubah-ubah, sering menangis, mudah sakit, kerap ketakutan akan hal-hal kecil dan mudah terganggu.

“Mereka juga lebih sering bertingkah untuk meminta perhatian,” tutur Raison lagi.

Ironisnya, kebanyakan orangtua berpikir anak-anak hanya bertingkah untuk mencari perhatian. Padahal bila dibiarkan berlarut-larut, kecemasan dan depresi bisa memicu penyakit mental yang lebih parah.

Karakter sosiopat dan psikopat adalah ujung akhir yang mengerikan.

Risiko bunuh diri

Meski begitu, tidak semua depresi berakhir pada bunuh diri. Ada faktor risiko tersendiri untuk bunuh diri. Menurut penelitian Johns Hopkins University, itu bisa dideteksi melalui tes darah sederhana.

Peneliti studi terbaru menemukan perubahan kimia dalam gen manusia sebagai reaksi tubuh saat stres. Para peneliti berfokus pada mutasi genetik yang dikenal sebagai SKA2. Sampel otak dilihat.

Ditemukan, tingkat SKA2 pada sampel otak orang-orang yang melakukan bunuh diri, berkurang secara signifikan.Perubahan gen melibatkan fungsi respons otak terhadap hormon stres, termasuk ketegangan sehari-hari. Pada akhirnya, itu mampu memicu perilaku bunuh diri.

Namun menurut Albert, tes darah untuk mengetahui risiko bunuh diri itu baru sampai pada tahap penelitian. “Belum bisa dipergunakan dalam praktik sehari-hari,” lanjut salah satu WHO Indonesia itu.

Ia berpendapat, faktor risiko bunuh diri di antaranya: gangguan jiwa seperti depresi, bipolar, ketergantungan obat, skizofrenia, antisosial, gangguan psikotik, kecemasan, impulsivitas dan agresi, riwayat percobaan bunuh diri, riwayat bunuh diri dalam keluarga, dan kondisi medis serius.

Beberapa penelitian menyebut, depresi lebih banyak terjadi pada wanita. Namun, pria depresi lebih berbahaya. Gejalanya sulit dikenali dan lebih mungkin lari ke alkohol serta zat berbahaya lainnya.

Akibatnya, pria depresi lebih banyak yang bunuh diri.

Gejala depresi yang mengarah ke bunuh diri, bisa muncul kapan saja. “Tergantung jenisnya. Ada penyakit jiwa yang mulainya di masa kanak-kanak, misalnya hiperaktif atau autisme,” terang Albert.

Ada pula yang gejalanya mulai saat remaja. Misalnya: skizofrenia, bipolar, dan demensia. Khusus bipolar, psikolog Roslina Verauli pernah menjelaskan, merupakan perubahan suasana hati, perilaku, dan emosi.

Ia menjelaskan, bipolar adalah dua kutub dalam diri. “Satu kutub depresi, situasi mood yang selalu pesimis, tidak percaya diri, bahkan ingin bunuh diri. Kutub kedua adalah mania, kebalikan dari depresi. Ini saat orang bersemangat, sangat optimis, merasa penting,” katanya pada VIVAlife.

Verauli menyebut, riset terbaru mengungkap bahwa seniman dan penulis yang diteliti dua hingga tiga kali lebih besar berpotensi mengalami gangguan depresi, psikosis, bipolar daripada profesi lain.

“Ini bisa, karena tekanannya tinggi dan ekspektasi terlalu tinggi,” ucapnya.

Penyembuhan

Jika sudah diketahui sejak awal, penanganan seharusnya lebih tidak berisiko. Albert menjelaskan, penderita gangguan jiwa tidak selalu harus dirawat, kecuali sangat memerlukan.

“Cara pengobatannya dengan obat dan psikoterapi. Ada yang setelah itu sembuh 100 persen, tapi ada yang butuh pengobatan berkelanjutan,” lanjutnya. Lebih parah dari itu, ada penyakit yang bisa kambuh.

Kekambuhan itu bisa terjadi karena penghentian obat sebelum waktunya atau tekanan berlebihan.

Karena itu, lingkungan harus didesain sedemikian rupa sehingga tidak mendorong penderita depresi berpikir lebih jauh, bahkan bunuh diri. Cara paling tepat menurut Raison, adalah mengajak berbicara.

“Beritahu bahwa mereka tidak sendiri dan Anda akan terus ada untuk membantu. Mereka juga harus terus diingatkan bahwa mereka berarti,” ujar Raison. Dengan begitu, pandangan mereka lebih positif. (ren)

Geger Model Dunia Hilang Misterius

Ataui Deng telah ditemukan setelah 10 hari menghilang (instagram.com/atauid)

Ataui Deng telah ditemukan setelah 10 hari menghilang (instagram.com/atauid)

VIVAlife - Model dunia, Ataui Deng membuat geger teman-temannya sesama model, setelah diketahui hilang misterius. Model Australia, Shanina Shaik, terlihat yang paling khawatir saat mendengar kabar tersebut. 

Ataui Deng menghilang, setelah meninggalkan klub elit Manhattan sekitar pukul 23.00 waktu setempat, pada Rabu, 6 Agustus 2014 lalu. 

Sejak meninggalkan klub malam ekslusif itu, tak ada yang tahu keberadaan model berusia 22 tahun ini. 

Kekasihnya, aktor, Grant Monohon yang pertama kali melapor dan mengajukan laporan orang hilang. Kemudian, teman-teman Ataui ikut mendukung pencarian model tersebut. 

Shanina salah satunya. Ia langsung meng-upload foto Ataui dengan sebuah pesan,” Telah hilang, teman saya Ataui Deng selama 10 hari,” tulisnya seperti dikutip dari Instagram. “Tingginya 5 kaki 10 inci dan ramping,” ujarnya menggambarkan sosok Ataui seperti dikutip dari Daily Mail.

Tak hanya Shanina, rekan model lainnya pun sibuk membuat pesan demi mendapatkan kabar keberadaan model ini. 

Shanina dan model lainnya, akhirnya bisa bernapas lega, setelah Ataui ditemukan. 

“Saya sangat senang memberitahu bahwa Ataui telah ditemukan. Dia aman dan sehat. Saya ingin berterima kasih kepada semua teman-teman dan terutama NYPD untuk respon cepat dan dedikasi mereka,” tulisnya. 

Saat ini, Ataui berada di rumah sakit di Manhattan. Belum diketahui bagaimana kondisinya secara pasti.