Sri Fatmawati dan “Sponge Bob” Anti Kanker

Sri Fatmawati (Dok. Loreal)

Sri Fatmawati (Dok. Loreal)

VIVAlife - Spons laut (porifera) bagi banyak orang cuma makhluk laut biasa. Tapi bagi Sri Fatmawati, hewan invertebrata paling primitif ini adalah sebuah cita-cita kemanusiaan. Siapa sangka kalau spons laut di perairan Indonesia dan samudera Indopasifik mengandung senyawa yang berpeluang besar jadi obat kanker.

Hewan laut yang mungkin Anda lebih kenal lewat tokoh Sponge Bob itu pula, yang membawa Sri Fatmawati ke Paris, Prancis. Perempuan peneliti muda ini baru saja mendapat penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women In Science (FWIS) 2013.

FWIS merupakan penghargaan bergengsi dari L’Oreal dan UNESCO, yang diberikan pada perempuan peneliti muda yang memiliki kemampuan dan bakat dalam bidang sains berusia di bawah 35 tahun. Bersaing dengan ribuan peneliti muda dari berbagai negara, perempuan yang akrab disapa Fatma itu, melalui proposal risetnya terpilih jadi pemenang dari Indonesia.

“Bukti bahwa para peneliti perempuan Indonesia sama baiknya dengan para peneliti internasional lainnya. Kemenangan ini memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan penelitian di Paris dan mudah-mudahan dapat membawa perubahan dalam dunia kedokteran melalui sains,” ujar Sri Fatmawati, S.Si, M.Sc, Ph.D, kepada VIVAlife.
 
Beasiswa senilai US$ 40.000 didapatkannya. Selama dua tahun, ia akan melakukan penelitian soal spons laut sebagai obat di Institute of Natural Products Chemistry, National Center for Scientific Research (CNRS) di Gif-sur-Yvette, Perancis.

Secara spesifik, spons laut yang ia teliti merupakan spons yang berasal dari perairan Indonesia dan samudera Indopasifik. Ia ingin Indonesia memiliki basis penelitian obat kanker yang senyawanya berasal dari kekayaan alam sendiri.

“Indonesia punya harta karun yang negara lain tidak punya. Punya segalanya, termasuk biodiversitas yang luar biasa. Peluangnya sangat besar,” kata Fatma penuh semangat.

Keinginan perempuan bergelar doktor dari Universitas Yushu Fukuoka Jepang itu adalah mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia. Ia ingin meneliti zat kimia dari bahan alam dan menemukan manfaat kesehatan dari kekayaan alam Indonesia baik di darat maupun di laut.

Usianya masih 33 tahun, jalan Fatma sebagai peneliti perempuan masih sangat panjang. Dengan latar belakang pendidikan master dan doktoral di Jepang, lalu mendapat mendapat fasilitas penelitian lengkap di Prancis, tak lantas membuyarkan keinginannya mengabdi untuk almamater dan negara.

Ia berharap pemikirannya berbuah sumbangsih nyata untuk Indonesia. Terutama dalam pengobatan penyakit berbahaya, seperti kanker dan alzheimer. Sekembalinya dari menjalani penelitian, Fatma ingin tetap membagi ilmu di tanah air sebagai dosen.

“Saya ingin tetap mengabdi di jurusan tercinta, Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Institut Teknologi Sepuluh Nopember,” ungkapnya.

Efek dahsyat spons laut

Sebelum meneliti spons, Fatma meneliti jamur Limpi. Di Jepang, dalam studi pascasarjananya, ia menemukan kalau senyawa pada jamur Limpi diketahui mampu menghambat komplikasi diabetes. Sampai saat ini penelitiannya di Jepang masih terus dikembangkan.

“Untuk penelitian di Jepang, mempelajari tentang mekanisme  penghambatan dari senyawa aktif pada Jamur limpi,” ungkap Fatma.

Setelah meneliti jamur yang tumbuh di daratan, Fatma pun penasaran dengan makhluk laut. Dalam hal ini, spons laut lah yang mencuri perhatiannya. Mengingat Indonesia memiliki kekayaan laut luar biasa, dan spons di dalamnya belum dimanfaatkan secara maksimal, ia pun berusaha untuk mengeksplorasinya.

Fatma akan secara khusus meneliti spons di perairan Indonesia dan Pasifik. Nantinya, di Paris ia akan dilatih untuk memisahkan dan menentukan struktur metabolit alami yang berasal dari berbagai spesies spons.

Salah satu tantangannya adalah, mengisolasi struktur molekul laut yang kompleks. Setelah berhasil mengisolasi dan memurnikan molekul, Fatma akan menguji aktivitas biologis spons secara  in vitro untuk melihat apakah menunjukkan sifat anti-plasmodial, anti-mikroba, anti-tumor atau anti-cholinesterases.

“Dari proses tersebut, peluang untuk ditemukan senyawa baru sangat besar,” ungkap wanita berhijab ini.

Ini merupakan proses eksplorasi yang relevan untuk pengobatan penyakit seperti malaria, infeksi, kanker dan Alzheimer. Setiap molekul yang berguna akan dipatenkan. Hal itu, untuk memungkinkan proses sintesis yang akan digunakan sebagai senyawa obat yang potensial.

Inspirasi jamu

Cita-cita Fatma menjadi peneliti yang diakui di dunia internasional, tak lepas dari kehidupan masa kecilnya. Ia kepincut dengan kekuatan penyembuhan dari jamu. Ibu dua anak ini, sejak dulu  sudah jadi penikmat dan disembuhkan oleh jamu.

Ia bercerita, saat sakit dan kelelahan, jamu jadi ‘senjata’ sang ibunda untuk diberikan padanya. Termasuk, menangkal rasa gatal akibat nyamuk.

“Kalau digigit nyamuk itu, dikasih minum jamu paitan sama ibu. Ibu juga biasanya kasih jamu untuk jaga stamina, ia suka bikin sendiri,” ungkap Fatma.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat kekuatan penyembuhan dengan bahan-bahan alami. Mulai dari akar, daun, tumbuhan, jamur, hingga makhluk laut. Hal ini semacam memberi Fatma petunjuk karirnya di bidang sains. Cerita jamu ini juga dimuatnya dalam proposal riset, yang kemudian membawanya jadi pemenang FWIS 2013.

Sejak kuliah di jurusan Kimia, FMIPA ITS pada 1998, Fatma memang langsung jatuh cinta pada dunia kimia. Ia menemukan keasyikan sendiri berkutat di laboratorium. Berjam-jam  mengamati perubahan senyawa lalu mendokumentasikan prosesnya secara detail, jadi sebuah aktivitas seru baginya.

Bermalam di laboratorium pun dilakoninya. Tabung, pipet, mikroskop merupakan ‘alat perangnya’. Fatma mengaku kecanduan dengan aktivitas di laboratorium, “saya utak atik senyawa untuk memisahkan kandungannya. Begitu ketemu, itu senangnya luar biasa, bikin ingin  lagi, ingin lagi”.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini, besar di keluarga sederhana di Sampang, Madura. Ayahnya seorang guru sekolah dasar (SD), dan sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Meskipun hidup sederhana, prestasi Fatma sejak kecil bisa dibilang tak sederhana.

Beasiswa karena nilainya yang sangat baik, sudah didapatkannya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pendidikan doktor di Jepang yang dijalaninya, juga merupakan beasiswa.

“Sejak SD sampe kuliah di ITS saya pernah mendapat beasiswa, namanya beasiswa Prestasi, dari Yayasan Supersemar. Saat S2 juga beasiswa dari Asian Development Bank. Dan untuk S3, beasiswa Hitachi Scholarship Foundation,” cerita Fatma.

Hingga pada Maret 2011 lalu, perempuan kelahiran 3 November 1980 itu berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D), dalam bidang Bioresources and Bioenvironmental Sciences dari Universitas Kyushu. Penelitiannya untuk meraih gelar doktor lagi-lagi seputar bahan alami yaitu jamur Limpi. Dari hasil penelitiannya, senyawa pada jamur Limpi diketahui mampu menghambat komplikasi diabetes.

Masih kurang

Bergelar Doktor dari Universitas ternama di Jepang, menulis lima jurnal sains internasional, mendapat penghargaan internasional bergengsi. Sosok Fatma tetap bersahaja. Ia merasa apa yang dicapainya belum begitu banyak.

Ia masih mengejar cita-cita menjadi peneliti sains yang diperhitungkan di dunia internasional. Harapannya makin banyak perempuan Indonesia yang berkarier menjadi peneliti. Menurut Fatma, saat ini jumlah peneliti sains perempuan di Indonesia masih sedikit.

“Perempuan peneliti di Indonesia masih kurang. Bisa dibayangkan jika semakin banyak yang bergerak di penelitian, maka Indonesia Insya Allah akan lebih maju,” ujar Fatma.

Apalagi bagi Fatma, sosok perempuan dalam perkembangan dunia pengetahuan memiliki andil besar. Ia percaya saat dalam rahim ibu, bayi sudah mulai belajar.

“Perempuan adalah sumber ilmu pengetahuan terutama bagi anak-anak mereka karena proses belajar dimulai sejak janin masih dalam kandungan,” ujar Fatma.

Jatuh cinta pada sains, itulah Fatma. Ia menemukan kesenangannya. Baginya, sains adalah jalan hidup serta cita-cita yang ia yakin bisa mengubah dunia.

“Jadi peneliti itu menyenangkan akan membawa banyak perubahan dalam hidup. Yakinlah bahwa kita bisa mengubah dunia dengan sains,” ungkapnya.

Sri Fatmawati dan “Sponge Bob” Anti Kanker

Sri Fatmawati (Dok. Loreal)

Sri Fatmawati (Dok. Loreal)

VIVAlife - Spons laut (porifera) bagi banyak orang cuma makhluk laut biasa. Tapi bagi Sri Fatmawati, hewan invertebrata paling primitif ini adalah sebuah cita-cita kemanusiaan. Siapa sangka kalau spons laut di perairan Indonesia dan samudera Indopasifik mengandung senyawa yang berpeluang besar jadi obat kanker.

Hewan laut yang mungkin Anda lebih kenal lewat tokoh Sponge Bob itu pula, yang membawa Sri Fatmawati ke Paris, Prancis. Perempuan peneliti muda ini baru saja mendapat penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women In Science (FWIS) 2013.

FWIS merupakan penghargaan bergengsi dari L’Oreal dan UNESCO, yang diberikan pada perempuan peneliti muda yang memiliki kemampuan dan bakat dalam bidang sains berusia di bawah 35 tahun. Bersaing dengan ribuan peneliti muda dari berbagai negara, perempuan yang akrab disapa Fatma itu, melalui proposal risetnya terpilih jadi pemenang dari Indonesia.

“Bukti bahwa para peneliti perempuan Indonesia sama baiknya dengan para peneliti internasional lainnya. Kemenangan ini memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan penelitian di Paris dan mudah-mudahan dapat membawa perubahan dalam dunia kedokteran melalui sains,” ujar Sri Fatmawati, S.Si, M.Sc, Ph.D, kepada VIVAlife.
 
Beasiswa senilai US$ 40.000 didapatkannya. Selama dua tahun, ia akan melakukan penelitian soal spons laut sebagai obat di Institute of Natural Products Chemistry, National Center for Scientific Research (CNRS) di Gif-sur-Yvette, Perancis.

Secara spesifik, spons laut yang ia teliti merupakan spons yang berasal dari perairan Indonesia dan samudera Indopasifik. Ia ingin Indonesia memiliki basis penelitian obat kanker yang senyawanya berasal dari kekayaan alam sendiri.

“Indonesia punya harta karun yang negara lain tidak punya. Punya segalanya, termasuk biodiversitas yang luar biasa. Peluangnya sangat besar,” kata Fatma penuh semangat.

Keinginan perempuan bergelar doktor dari Universitas Yushu Fukuoka Jepang itu adalah mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia. Ia ingin meneliti zat kimia dari bahan alam dan menemukan manfaat kesehatan dari kekayaan alam Indonesia baik di darat maupun di laut.

Usianya masih 33 tahun, jalan Fatma sebagai peneliti perempuan masih sangat panjang. Dengan latar belakang pendidikan master dan doktoral di Jepang, lalu mendapat mendapat fasilitas penelitian lengkap di Prancis, tak lantas membuyarkan keinginannya mengabdi untuk almamater dan negara.

Ia berharap pemikirannya berbuah sumbangsih nyata untuk Indonesia. Terutama dalam pengobatan penyakit berbahaya, seperti kanker dan alzheimer. Sekembalinya dari menjalani penelitian, Fatma ingin tetap membagi ilmu di tanah air sebagai dosen.

“Saya ingin tetap mengabdi di jurusan tercinta, Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Institut Teknologi Sepuluh Nopember,” ungkapnya.

Efek dahsyat spons laut

Sebelum meneliti spons, Fatma meneliti jamur Limpi. Di Jepang, dalam studi pascasarjananya, ia menemukan kalau senyawa pada jamur Limpi diketahui mampu menghambat komplikasi diabetes. Sampai saat ini penelitiannya di Jepang masih terus dikembangkan.

“Untuk penelitian di Jepang, mempelajari tentang mekanisme  penghambatan dari senyawa aktif pada Jamur limpi,” ungkap Fatma.

Setelah meneliti jamur yang tumbuh di daratan, Fatma pun penasaran dengan makhluk laut. Dalam hal ini, spons laut lah yang mencuri perhatiannya. Mengingat Indonesia memiliki kekayaan laut luar biasa, dan spons di dalamnya belum dimanfaatkan secara maksimal, ia pun berusaha untuk mengeksplorasinya.

Fatma akan secara khusus meneliti spons di perairan Indonesia dan Pasifik. Nantinya, di Paris ia akan dilatih untuk memisahkan dan menentukan struktur metabolit alami yang berasal dari berbagai spesies spons.

Salah satu tantangannya adalah, mengisolasi struktur molekul laut yang kompleks. Setelah berhasil mengisolasi dan memurnikan molekul, Fatma akan menguji aktivitas biologis spons secara  in vitro untuk melihat apakah menunjukkan sifat anti-plasmodial, anti-mikroba, anti-tumor atau anti-cholinesterases.

“Dari proses tersebut, peluang untuk ditemukan senyawa baru sangat besar,” ungkap wanita berhijab ini.

Ini merupakan proses eksplorasi yang relevan untuk pengobatan penyakit seperti malaria, infeksi, kanker dan Alzheimer. Setiap molekul yang berguna akan dipatenkan. Hal itu, untuk memungkinkan proses sintesis yang akan digunakan sebagai senyawa obat yang potensial.

Inspirasi jamu

Cita-cita Fatma menjadi peneliti yang diakui di dunia internasional, tak lepas dari kehidupan masa kecilnya. Ia kepincut dengan kekuatan penyembuhan dari jamu. Ibu dua anak ini, sejak dulu  sudah jadi penikmat dan disembuhkan oleh jamu.

Ia bercerita, saat sakit dan kelelahan, jamu jadi ‘senjata’ sang ibunda untuk diberikan padanya. Termasuk, menangkal rasa gatal akibat nyamuk.

“Kalau digigit nyamuk itu, dikasih minum jamu paitan sama ibu. Ibu juga biasanya kasih jamu untuk jaga stamina, ia suka bikin sendiri,” ungkap Fatma.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat kekuatan penyembuhan dengan bahan-bahan alami. Mulai dari akar, daun, tumbuhan, jamur, hingga makhluk laut. Hal ini semacam memberi Fatma petunjuk karirnya di bidang sains. Cerita jamu ini juga dimuatnya dalam proposal riset, yang kemudian membawanya jadi pemenang FWIS 2013.

Sejak kuliah di jurusan Kimia, FMIPA ITS pada 1998, Fatma memang langsung jatuh cinta pada dunia kimia. Ia menemukan keasyikan sendiri berkutat di laboratorium. Berjam-jam  mengamati perubahan senyawa lalu mendokumentasikan prosesnya secara detail, jadi sebuah aktivitas seru baginya.

Bermalam di laboratorium pun dilakoninya. Tabung, pipet, mikroskop merupakan ‘alat perangnya’. Fatma mengaku kecanduan dengan aktivitas di laboratorium, “saya utak atik senyawa untuk memisahkan kandungannya. Begitu ketemu, itu senangnya luar biasa, bikin ingin  lagi, ingin lagi”.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini, besar di keluarga sederhana di Sampang, Madura. Ayahnya seorang guru sekolah dasar (SD), dan sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Meskipun hidup sederhana, prestasi Fatma sejak kecil bisa dibilang tak sederhana.

Beasiswa karena nilainya yang sangat baik, sudah didapatkannya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Pendidikan doktor di Jepang yang dijalaninya, juga merupakan beasiswa.

“Sejak SD sampe kuliah di ITS saya pernah mendapat beasiswa, namanya beasiswa Prestasi, dari Yayasan Supersemar. Saat S2 juga beasiswa dari Asian Development Bank. Dan untuk S3, beasiswa Hitachi Scholarship Foundation,” cerita Fatma.

Hingga pada Maret 2011 lalu, perempuan kelahiran 3 November 1980 itu berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D), dalam bidang Bioresources and Bioenvironmental Sciences dari Universitas Kyushu. Penelitiannya untuk meraih gelar doktor lagi-lagi seputar bahan alami yaitu jamur Limpi. Dari hasil penelitiannya, senyawa pada jamur Limpi diketahui mampu menghambat komplikasi diabetes.

Masih kurang

Bergelar Doktor dari Universitas ternama di Jepang, menulis lima jurnal sains internasional, mendapat penghargaan internasional bergengsi. Sosok Fatma tetap bersahaja. Ia merasa apa yang dicapainya belum begitu banyak.

Ia masih mengejar cita-cita menjadi peneliti sains yang diperhitungkan di dunia internasional. Harapannya makin banyak perempuan Indonesia yang berkarier menjadi peneliti. Menurut Fatma, saat ini jumlah peneliti sains perempuan di Indonesia masih sedikit.

“Perempuan peneliti di Indonesia masih kurang. Bisa dibayangkan jika semakin banyak yang bergerak di penelitian, maka Indonesia Insya Allah akan lebih maju,” ujar Fatma.

Apalagi bagi Fatma, sosok perempuan dalam perkembangan dunia pengetahuan memiliki andil besar. Ia percaya saat dalam rahim ibu, bayi sudah mulai belajar.

“Perempuan adalah sumber ilmu pengetahuan terutama bagi anak-anak mereka karena proses belajar dimulai sejak janin masih dalam kandungan,” ujar Fatma.

Jatuh cinta pada sains, itulah Fatma. Ia menemukan kesenangannya. Baginya, sains adalah jalan hidup serta cita-cita yang ia yakin bisa mengubah dunia.

“Jadi peneliti itu menyenangkan akan membawa banyak perubahan dalam hidup. Yakinlah bahwa kita bisa mengubah dunia dengan sains,” ungkapnya.

FOTO: Mengintip Kemewahan Kapal Pesiar 17 Lantai

Salah satu fasilitas di Royal Princess (Dok. Princess Cruise)

Salah satu fasilitas di Royal Princess (Dok. Princess Cruise)

VIVAlife – Royal Princess adalah kapal pesiar terbesar dan terkuat dalam armada Princess Cruises. Kapal ini memiliki 17 lantai yang akan menampung 3.600 penumpang dan 1.346 awak. Sementara luasnya mencapai 1.083 kaki dan panjang 217 kaki. Sekitar 73 meter lebih panjang dari Shard London dan beberapa meter lebih tinggi dari Tower Bridge.

Seperti dilansir laman Mirror, kapal ini menyiapkan beberapa fasilitas mewah, seperti layar bioskop besar di luar ruangan dan dua kolam renang. Pada malam hari, kolam renang berubah menjadi lantai dansa dengan pertunjukan air mancur di mana 85 jet air secara otomatis menyesuaikan kondisi saat cuaca berangin agar tidak membuat para penumpang menjadi basah.

Royal Princess berusaha memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh penumpang, mulai dari suasana romantis, pengalaman berkesan hingga tempat-tempat olahraga. Kapal ini juga dirancang dengan kemewahan bagai istana milik seorang putri.

Misalnya, desain dan interior yang elegan dengan emas dan marmer.  Royal Princess bahkan menyediakan studio televisi pertama yang ada di dalam kapal pesiar. Di studio ini, akan diadakan acara-acara seperti kuliner interaktif, konser, komedi tengah malam, hingga game show.

Tidak ketinggalan, kapal yang diresmikan oleh Kate Middleton itu dilengkapi spa yang terdiri 18 ruang perawatan. Menampilkan suasana pemandian Turki, sauna, hingga ruangan khusus bagi anak-anak dan remaja yang didesain dengan sangat nyaman bagaikan berada di rumah sendiri.

Fasilitas kamar di kapal pesiar ini tentu tidak perlu diragukan lagi. Penumpang tinggal pilih, mulai dari kamar super mewah yang akan dimanjakan dengan pelayanan pribadi hingga kamar dengan pemandangan yang menghadap langsung ke laut.

Kapal tersebut juga memberikan berbagai macam restoran mewah. Yang menarik adalah The Pastry Shop at Horizon Court, yaitu restoran yang memiliki ruang terpisah dengan dekorasi unik. (umi)

Ini Pesan Terakhir Ully Artha pada Suami

Ully Artha (ANTARA/M Adimaja)

Ully Artha (ANTARA/M Adimaja)

VIVAlife – Sebelum menghembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Soebroto, Minggu, 16 Juni 2013 pukul 16.45, Ully Artha sempat menyebutkan pesan terakhir. Pesan itu disampaikan pada suaminya, Gatot. Ditemui di TPU Tanah Kusir, Senin, 17 Juni 2013 ia mengungkapkan pesan Ully itu.

“Titip anak (angkat), keponakan-keponakan. Ada banyak ya,” kata kepada VIVAlife sambil tersenyum.

Gatot nampak sekali menyembunyikan kesedihannya. Ia menuturkan, dirinya takkan mungkin melupakan kenangan-kenangan yang dilalui bersama sang istri. Apalagi, mereka nyaris tak terpisahkan. Jalan selalu berdua.

Nggak banyak orang tahu, tapi kita cocok. Kita makan bareng, jalan-jalan berdua,” ujar Gatot menyebutkan. Menurutnya, Ully merupakan sosok yang menyenangkan. Tak heran, banyak sahabat yang melayatnya.

Untuk itu, Gatot menyampaikan terimakasih. “Sama sahabat almarhumah yang sudah lama tidak datang. Akhirnya bisa berkumpul lagi yang sudah lama nggak ketemu,” katanya.

Ia mengaku masih merasa kehilangan dan bersedih. Namun, ia pun mengikhlaskan. “Ya sudahlah, itu tempatnya yang abadi,” Gatot melanjutkan.

Selama ini, istrinya memang tak banyak mengeluh soal sakitnya. Hanya saja, sebulan belakangan ia memang merasa sesak nafas. Karena tak ada waktu, ia tak kontrol ke dokter. Selama tiga minggu belakangan, Ully sibuk syuting FTV. Ia berpikir, sesaknya itu karena terlalu lelah bekerja. Ternyata, itulah yang menyebabkan ia meninggal dunia.

“Sesak nafas karena ada kerusakan di jantung. Menyebar, akhirnya komplikasi. Cepat sekali ya,” ucap Gatot lagi menerangkan. (eh)